Sabtu, 28 Februari 2015

Crayon baru buat Fikri

Namanya juga Dina, ga akan habis keselnya kalau barang-barang miliknya diusilin, apalagi sampai dirusakin. Seminggu kemarinkan crayonnya dipakai sama Fikri dan akhirnya salah satunya patah, makanya pecahlah tangisan sang kakak, hingga berhari-hari. Fikri yang mendengar ocehan dan tangisannya hanya bisa menahan airmatanya tanpa bisa berkata-kata.

Sehari sesudah kejadian itu, aku membawa Fikri ke toko buku ramedia, mencari crayon untuk dipakenya sendiri. Yeeee, Fikri nampaknya senang dibawa kesana, aku ketempat buku-buku bacaan terlebih dahulu iapun sibuk mencari buku gambar dan buku cerita setelah itu kamipun menuju tempat mainan dan mencari mainan tentara-tentaraan. Kali ini tawa Fikri lebar, memang sudah sejak seminggu lalu ia minta dibelikan tersebut, karena mainan yang lama kaki dengan tangannya sudah patah semua, setelah itu kami langsung menuju ketempat alat tulis untuk mencari crayon. Yess….dapat, kamipun langsung menuju kekasir. 

Mainan baru
Tak sabar ingin mencoba crayon barunya, iapun langsung minta pulang. tapi kali ini aku singgah dulu sebentar untuk makan bakso. Namun sepertinya Fikri tak lahap menyantapnya, karena pikirannya terbagi sama barang barunya. Untung saja aku mengajak ibu, jadi ga terlalu tengsin ketika ia ribut untuk minta pulang. Selesai makan, bayar kasir dan motorpun melaju di jalan raya. Tak perlu waktu lama, sampailah kami dirumah. Masih dipintu pagar ia sudah berteriak..

"KAKA DINA, IKI PUNYA CRAYON DENGAN TENTARA BARU"

Iapun segera mengeluarkannya dari kantong plastik. Dina langsung membuatnya gambar pohon dan awan, Fikri begitu bersemangat mewarnai. Lihat saja hasilnya, meski belum sempurna tapi memuaskan.

Hasil warna Fikri



Amanlah sekarang, tak ada lagi pinjam meminjam crayon, karena masing-masing sudah punya sendiri.


Senin, 16 Februari 2015

Lucunya gambar-gambar Fikri

Hari minggu adalah hari menyenangkan bagi setiap orang, karena waktunya bersantai ria dengan keluarga, namun tidak bagiku. Aktivitas yang padat mulai dari hari senin sampai sabtu sebagai wanita pekerja, memaksaku untuk menjadi wonderwoman setiap hari minggu, karena memang sejak dulu aku tak memanfaatkan tenaga orang lain sebagai pembantu rumah tangga. Mencuci, memasak, bersih-bersih rumah, dan lain sebagainya, sudah menjadi agenda mingguan-ku.

Untungnya ada si kecil fikri yang selalu dapat menghadirkan senyum untukku, hingga hilanglah lelahku setiap waktu. Kali ini ia memperlihatkan hasil gambarannya padaku sambil menjelaskan setiap detail gambarnya tersebut....

Kata Fikri ini adalah gambar tikus, hihihi....tikusnya kok kakinya cuma sebelah, ujarku. Fikri hanya senyum-senyum saja.

gambar tikus

Kalau ini gambar kuda, kalau kudanya Fikri ada tanduknya....apa iya kuda punya tanduk ya????

kuda bertanduk

Karena Fikri memang fans beratnya tentara, helikopter sama mobil tank pasti tidak ketinggalan. Kata Fikri helikopternya kecil-kecil saja.

tank dan helikopter

Kali ini aku pura-pura takut karena ia juga menggambar serigala menyeringai,,lagi cari mangsa, hiiii....takuuuut....

serigala menyeringai

Seakan membesarkan keagungan Allah, ia menggambar matahari lengkap dengan garis-garis pendek disekelilingnya...

matahari

Menurut Fikri ini senjata, tapi aku melihatnya seperti meriam...senjata sama meriam sama ga ya????

meriam atau senjata ya???

Karena sebel sama si bruno, anjing penjaga halaman belakang rumah kami, maka beginilah jadinya bruno dikelilingi dengan api...hehehe. Gambar yang tajam-tajam di atas punggung bruno adalah api..ada-ada saja Fikri. Kok kayak buaya sih...

anjing, kok seperti buaya

Terakhir..Fikri membuat gambar dengan warna-warni yang indah. Rumah, matahari, pohon, dengan riuh burung yang terbang diatas rumah tersebut...burung kok ada kotaknya???, tanyaku. Fikri bilang, supaya burungnya tidak terbang jauh-jauh. Hahaha, aku tertawa lucu, ternyata burung dilangit juga pakai sangkar.

rumah, matahri, pohon dan burung-burung kecil

Itulah gambar-gambar Fikri yang penuh keceriaan, hilang lelah dan penat melihatnya, namun tak lama setelah itu Dina, sang kakak menangis tersedu-sedu. Setelah ditelusuri ternyata salah satu crayon kesayangan-nya patah dipakai oleh Fikri. Jadi tambah riuh deh, suasana hari minggu karena tingkah anak-anak.



Selasa, 10 Februari 2015

Dilema Dina putriku. Mamaku, guruku

“Pokoknya naik kelas enam, dina mau pindah disekolah lain” ujar dina dengan nada agak tinggi ketika pulang sekolah kemarin. Aku lihat raut wajahnya saat itu begitu kesal dan marah. Kucoba menenangkannya sambil bertanya ada apa sebenarnya. “mama tau, tadi mamanya temanku (sebut saja mamanya R dan L), sedang bicara tentang nilainya kita dikelas, baru mamanya R bilang dina itu sering dapat juara satu karena ada mamanya disekolah ini, dia tidak lihat, kalau saya tadi duduk-duduk dibawah pohon”.  Gleek, kalimat itu lagi yang kudengar. Sudah sering aku mendengar  tanggapan orang tua dari teman-teman dina tentang rangking satu yang selalu ia raih semenjak duduk dibangku kelas satu.

Aku juga sangat tidak suka mendengar hal itu, ibu mana sih yang tak sedih jika anaknya disakiti. ini tentu saja membuat ia down, pingin saja mencak-mencak kepada kedua orangtua anak tersebut, untung saja aku dapat mengendalikan diriku. Aku juga sudah menyampaikan hal ini kepada wali kelasnya. Sebenarnya ia sudah memintaku untuk memindahkannya semenjak ia duduk dibangku kelas 3 SD. Dina tak ingin prestasinya yang selama ini didapatkannya dikelas, dianggap oleh beberapa pihak karena ada campur tanganku. Padahal aku tak tahu menahu tentang itu. Karena penilaian tentangnya sudah kuserahkan sepenuhnya kepada wali kelas. Aku hanya sekedar bertanya tentang nilai-nilainya dikelas, dan sejauh ini memang tak ada masalah. Wali kelasnya-pun mengakui kalau dina memang cerdas. Ya, memang ini satu dilema jika anak bersekolah ditempatnya mama mengajar.

Saat ini aku hanya  bisa memberikannya motivasi agar ia tidak patah semangat untuk belajar. Dina, putri manisku memang sangat tekun dalam belajar, ia tak perlu menunggu disuruh untuk membuka kembali pelajaran yang diberikan ibu gurunya dan membuat PR jika dirumah. Jika aku membuka pintu kamarnya aku melihat ia begitu serius dengan buku-buku pelajarannya. Terlihat ketika ia kalah saingan dengan temannya pada pelajaran matematika, dengan kesadarannya sendiri, ia memintaku untuk memasukannya ditempat les khusus untuk otak kanan. Ya, apapun kulakukan jika untuk mendukung prestasi anak-anakku.

Salah satu koleksi piala Dina di sekolah
Dina putriku juga jago bercerita, berpidato dan ceramah. Aku sangat bangga atas prestasi yang diukirnya. Karena sudah memboyong beberapa piala untuk menjadi koleksi sekolah. Beberapa minggu lalu ia juga mendapat juara 2 ketika mengikuti Dai cilik mewakili TPA-nya tingkat kecamatan. Saat ini ia juga bersiap-siap untuk mengikuti olimpiade IPA dalam rangka FLS2N.

Piala lomba Da'i cilik
Semangat Dina putri manisku, jangan dengarkan mereka yang beranggapan lain-lain tentangmu, biarkan anjing menggonggong, kafilah berlalu. Keep Smile aja. Mama yakin dina pasti bisa. Doa mama selalu menyertai setiap langkahmu nak……………