Beberapa hari ini Fikri uring-uringan, bibir mungilnya
tak henti-hentinya ngomel. Ada saja yang diomelinya, aku hanya senyum-senyum
saja mendengar omelannya (kaya orang besar), pasalnya sudah tiga hari ini aku
sengaja menyembunyikan dot susunya. Kasian juga sebenarnya sih, tapi
mengingat usianya 3 tahun, 6 bulan aku harus segera bertindak, jangan sampai
masuk sekolah, masih ngenyot dot. Aku juga selalu dibuat rempong, kemana-mana bawa susu dengan dotnya.
Butuh kesabaran juga sih, habis dikit-dikit
dia merengek minta dibikinin susu, bahkan pernah menangis sejadi-jadinya. Kalau boleh dibilang dot susu adalah teman yang tak bisa terlupakan dan tertinggal, kemana saja pergi benda yang pertama kali dimasukkan dalam tas, ya...dot susu. Fikri juga pintar, kalau mau keluar rumah, yang pertama ditanyakannya, sudah pasti benda tersebut. Pokoknya Fikri sudah satu hati deh dengan dot susunya. Dot susu baginya is the best.
Dua tiga hari aku melihat ia tersiksa
dengan keadaan ini (penyesuaian niee…), berbagai cara kulakukan agar ia nyaman
setiap menjelang tidur, aku mulai bercerita untuk mengalihkan ingatannya pada dot susunya tentang hal-hal yang menarik,
atau menceritakan dongeng-dongeng pengantar tidur. Hasil….taaaraaa, iapun
tertidur pulas tanpa botol susu. Meskipun tidur siangnya terlewatkan karena dot susu tak menemaninya.
Ketika hari kedua aku membawanya ke
tempat mengajarku, ia merayuku untuk membeli dot, aku membujuknya dengan
kata-kata yang membuatnya merasa tersanjung “kalau tentara itu tidak minum
dot”.
Lolos….alasanku masuk akalnya, ya……dia paling bangga dan senang jika dikatakan
tentara. “kalau tentara itu tidak ada yang minum pake dot,
mama”, begitu ia bertanya kembali. Aku menjawabnya sambil tersenyum “ya,
iyalah”.
Sedikit ia sudah mulai melupakan botol
kesayangannya tersebut. Ternyata ada sisi positifnya lho….makannyapun mulai lahap,
sekali makan bisa nambah. Tidak perlu memaksanya makan, ia akan minta sendiri,
pernah sekali waktu akan tidur malam, ia minta makan lagi. Wiiih…pokoknya
seneng sekali lihat nafsu makannya. Bangun tidur bukan minta dot, tapi minta
makan.
Hari ketiga, ingatan Fikri tentang
botolnya goyah. Tau ga kenapa??? Ibuku, sang nenek datang kerumah, pikirnya….hem,
ada pembela nih, mulai deh dia merengek-rengek minta dot lagi (tau aja dia
kalau nenek sayang banget sama cucu).Ternyata rengekannya tak mempan, dia jadi
uring-uringan lagi, nangis sampe berjam-jam. Dengan membujuknya, aku mengatakan boleh minum
susu, tapi digelas saja ya….., untung saja dia mau.
Hari keempat, dia mulai lupa sama
botolnya. Yeeee….akupun mulai bersorak senang, kali ini kemenangan ada padaku. Yang
jelas kemenangan yang kudapat membawa banyak manfaat buat Fikri. Yang pertama,
selera makannya makin baik . Kedua, pipisnya makin berkurang, soooo….sekalian
aja tinggalin diapers, sambil diajar bangun pipis tengah malam. Ketiga,
kemana-mana ga rempong bawa dot susu.
Sambil menyimpan semua botol Fikri aku
berkata dalam hati