Jumat, 05 Juni 2015

Selamat ulang tahun buat putri cantikku

6 Juni 2003, kau lahir sebagai bayi mungil, puji syukur tiada tara kupanjatkan pada Ilahi. Harapan dan impian terkabul, bayi mungil itu kami beri nama "RIZKY AUDINA ARSYTA". Hari demi hari terlewati dengan penuh sukacita. 12 Tahun kini berlalu, kau mulai tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang riang, rajin belajar dan taat beribadah. Banyak sudah prestasi yang kau ukir yang membuat mama dan papa bangga. Mama masih rindu dengan masa-masa kecilmu, memelukmu, menimangmu. Dan sekarang kau mulai risih dengan itu semua karena pertumbuhanmu.

Gantungkan nak, gantungkan cita-citamu setinggi langit. Jangan pernah putus asa atas kegagalan. Terus melangkah demi mewujudkan apa yang menjadi cita-citamu di masa depan. Ingat nak, jangan angkuh dan sombong jika kelak menjadi orang sukses, jadilah sahabat yang selalu dirindukan oleh teman-temanmu, dirindukan oleh bapak-ibu gurumu, menjadi kakak yang selalu melindungi adik, selalu menghormati dan menghargai orang-orang yang lebih tua yang ada di sekitarmu. Semoga Dina menjadi anak yang dapat membanggakan dan membesarkan nama keluarga.

Selamat ulang tahun nak, teriring doa kami semua, semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan Rahmat dan karunianya untukmu.












Sabtu, 28 Maret 2015

Bye....bye dot susu

Beberapa  hari ini Fikri uring-uringan, bibir mungilnya tak henti-hentinya ngomel. Ada saja yang diomelinya, aku hanya senyum-senyum saja mendengar omelannya (kaya orang besar), pasalnya sudah tiga hari ini aku sengaja menyembunyikan dot susunya. Kasian juga sebenarnya sih, tapi mengingat usianya 3 tahun, 6 bulan aku harus segera bertindak, jangan sampai masuk sekolah, masih ngenyot dot. Aku juga selalu dibuat rempong, kemana-mana bawa susu dengan dotnya.

Butuh kesabaran juga sih, habis dikit-dikit dia merengek minta dibikinin susu, bahkan pernah menangis sejadi-jadinya. Kalau boleh dibilang dot susu adalah teman yang tak bisa terlupakan dan tertinggal, kemana saja pergi benda yang pertama kali dimasukkan dalam tas, ya...dot susu. Fikri juga pintar, kalau mau keluar rumah, yang pertama ditanyakannya, sudah pasti benda tersebut. Pokoknya Fikri sudah satu hati deh dengan dot susunya. Dot susu baginya is the best.

Dua tiga hari aku melihat ia tersiksa dengan keadaan ini (penyesuaian niee…), berbagai cara kulakukan agar ia nyaman setiap menjelang tidur, aku mulai bercerita untuk mengalihkan ingatannya pada dot susunya  tentang hal-hal yang menarik, atau menceritakan dongeng-dongeng pengantar tidur. Hasil….taaaraaa, iapun tertidur pulas tanpa botol susu. Meskipun tidur siangnya terlewatkan karena dot susu tak menemaninya.

Ketika hari kedua aku membawanya ke tempat mengajarku, ia merayuku untuk membeli dot, aku membujuknya dengan kata-kata yang membuatnya merasa tersanjung “kalau tentara itu tidak minum dot”. Lolos….alasanku masuk akalnya, ya……dia paling bangga dan senang jika dikatakan tentara. “kalau tentara itu tidak ada yang minum pake dot, mama”, begitu ia bertanya kembali.  Aku menjawabnya sambil tersenyum “ya, iyalah”.

Sedikit ia sudah mulai melupakan botol kesayangannya tersebut. Ternyata ada sisi positifnya lho….makannyapun mulai lahap, sekali makan bisa nambah. Tidak perlu memaksanya makan, ia akan minta sendiri, pernah sekali waktu akan tidur malam, ia minta makan lagi. Wiiih…pokoknya seneng sekali lihat nafsu makannya. Bangun tidur bukan minta dot, tapi minta makan.

Hari ketiga, ingatan Fikri tentang botolnya goyah. Tau ga kenapa??? Ibuku, sang nenek datang kerumah, pikirnya….hem, ada pembela nih, mulai deh dia merengek-rengek minta dot lagi (tau aja dia kalau nenek sayang banget sama cucu).Ternyata rengekannya tak mempan, dia jadi uring-uringan lagi, nangis sampe berjam-jam.  Dengan membujuknya, aku mengatakan boleh minum susu, tapi digelas saja ya….., untung saja dia mau.

Hari keempat, dia mulai lupa sama botolnya. Yeeee….akupun mulai bersorak senang, kali ini kemenangan ada padaku. Yang jelas kemenangan yang kudapat membawa banyak manfaat buat Fikri. Yang pertama, selera makannya makin baik . Kedua, pipisnya makin berkurang, soooo….sekalian aja tinggalin diapers, sambil diajar bangun pipis tengah malam. Ketiga, kemana-mana ga rempong bawa dot susu. 
Sambil menyimpan semua botol Fikri aku berkata dalam hati

“bye..bye dot susu dan diapers”

Moment moment Fikri menikmati dot susu. Kalau lagi mau, dimana saja oke

Shalat ied ketiduran, ditemani dot susu
Ultah Fikri ke-1

Koleksi botol susu Fikri

6 bulan sudah lengket sama dot susu
Teras rumah, nunggu jemputan

Waktu ngantar siswa siswiku ikut lomba

Halaman sekolah, nunggu mama pulang ngajar

Di bandara juga oke :)


Bermain, lanjut terus ngenyotnya

Tempat rekreasi, cuek aja dengan orang lain


Sabtu, 28 Februari 2015

Crayon baru buat Fikri

Namanya juga Dina, ga akan habis keselnya kalau barang-barang miliknya diusilin, apalagi sampai dirusakin. Seminggu kemarinkan crayonnya dipakai sama Fikri dan akhirnya salah satunya patah, makanya pecahlah tangisan sang kakak, hingga berhari-hari. Fikri yang mendengar ocehan dan tangisannya hanya bisa menahan airmatanya tanpa bisa berkata-kata.

Sehari sesudah kejadian itu, aku membawa Fikri ke toko buku ramedia, mencari crayon untuk dipakenya sendiri. Yeeee, Fikri nampaknya senang dibawa kesana, aku ketempat buku-buku bacaan terlebih dahulu iapun sibuk mencari buku gambar dan buku cerita setelah itu kamipun menuju tempat mainan dan mencari mainan tentara-tentaraan. Kali ini tawa Fikri lebar, memang sudah sejak seminggu lalu ia minta dibelikan tersebut, karena mainan yang lama kaki dengan tangannya sudah patah semua, setelah itu kami langsung menuju ketempat alat tulis untuk mencari crayon. Yess….dapat, kamipun langsung menuju kekasir. 

Mainan baru
Tak sabar ingin mencoba crayon barunya, iapun langsung minta pulang. tapi kali ini aku singgah dulu sebentar untuk makan bakso. Namun sepertinya Fikri tak lahap menyantapnya, karena pikirannya terbagi sama barang barunya. Untung saja aku mengajak ibu, jadi ga terlalu tengsin ketika ia ribut untuk minta pulang. Selesai makan, bayar kasir dan motorpun melaju di jalan raya. Tak perlu waktu lama, sampailah kami dirumah. Masih dipintu pagar ia sudah berteriak..

"KAKA DINA, IKI PUNYA CRAYON DENGAN TENTARA BARU"

Iapun segera mengeluarkannya dari kantong plastik. Dina langsung membuatnya gambar pohon dan awan, Fikri begitu bersemangat mewarnai. Lihat saja hasilnya, meski belum sempurna tapi memuaskan.

Hasil warna Fikri



Amanlah sekarang, tak ada lagi pinjam meminjam crayon, karena masing-masing sudah punya sendiri.


Senin, 16 Februari 2015

Lucunya gambar-gambar Fikri

Hari minggu adalah hari menyenangkan bagi setiap orang, karena waktunya bersantai ria dengan keluarga, namun tidak bagiku. Aktivitas yang padat mulai dari hari senin sampai sabtu sebagai wanita pekerja, memaksaku untuk menjadi wonderwoman setiap hari minggu, karena memang sejak dulu aku tak memanfaatkan tenaga orang lain sebagai pembantu rumah tangga. Mencuci, memasak, bersih-bersih rumah, dan lain sebagainya, sudah menjadi agenda mingguan-ku.

Untungnya ada si kecil fikri yang selalu dapat menghadirkan senyum untukku, hingga hilanglah lelahku setiap waktu. Kali ini ia memperlihatkan hasil gambarannya padaku sambil menjelaskan setiap detail gambarnya tersebut....

Kata Fikri ini adalah gambar tikus, hihihi....tikusnya kok kakinya cuma sebelah, ujarku. Fikri hanya senyum-senyum saja.

gambar tikus

Kalau ini gambar kuda, kalau kudanya Fikri ada tanduknya....apa iya kuda punya tanduk ya????

kuda bertanduk

Karena Fikri memang fans beratnya tentara, helikopter sama mobil tank pasti tidak ketinggalan. Kata Fikri helikopternya kecil-kecil saja.

tank dan helikopter

Kali ini aku pura-pura takut karena ia juga menggambar serigala menyeringai,,lagi cari mangsa, hiiii....takuuuut....

serigala menyeringai

Seakan membesarkan keagungan Allah, ia menggambar matahari lengkap dengan garis-garis pendek disekelilingnya...

matahari

Menurut Fikri ini senjata, tapi aku melihatnya seperti meriam...senjata sama meriam sama ga ya????

meriam atau senjata ya???

Karena sebel sama si bruno, anjing penjaga halaman belakang rumah kami, maka beginilah jadinya bruno dikelilingi dengan api...hehehe. Gambar yang tajam-tajam di atas punggung bruno adalah api..ada-ada saja Fikri. Kok kayak buaya sih...

anjing, kok seperti buaya

Terakhir..Fikri membuat gambar dengan warna-warni yang indah. Rumah, matahari, pohon, dengan riuh burung yang terbang diatas rumah tersebut...burung kok ada kotaknya???, tanyaku. Fikri bilang, supaya burungnya tidak terbang jauh-jauh. Hahaha, aku tertawa lucu, ternyata burung dilangit juga pakai sangkar.

rumah, matahri, pohon dan burung-burung kecil

Itulah gambar-gambar Fikri yang penuh keceriaan, hilang lelah dan penat melihatnya, namun tak lama setelah itu Dina, sang kakak menangis tersedu-sedu. Setelah ditelusuri ternyata salah satu crayon kesayangan-nya patah dipakai oleh Fikri. Jadi tambah riuh deh, suasana hari minggu karena tingkah anak-anak.



Selasa, 10 Februari 2015

Dilema Dina putriku. Mamaku, guruku

“Pokoknya naik kelas enam, dina mau pindah disekolah lain” ujar dina dengan nada agak tinggi ketika pulang sekolah kemarin. Aku lihat raut wajahnya saat itu begitu kesal dan marah. Kucoba menenangkannya sambil bertanya ada apa sebenarnya. “mama tau, tadi mamanya temanku (sebut saja mamanya R dan L), sedang bicara tentang nilainya kita dikelas, baru mamanya R bilang dina itu sering dapat juara satu karena ada mamanya disekolah ini, dia tidak lihat, kalau saya tadi duduk-duduk dibawah pohon”.  Gleek, kalimat itu lagi yang kudengar. Sudah sering aku mendengar  tanggapan orang tua dari teman-teman dina tentang rangking satu yang selalu ia raih semenjak duduk dibangku kelas satu.

Aku juga sangat tidak suka mendengar hal itu, ibu mana sih yang tak sedih jika anaknya disakiti. ini tentu saja membuat ia down, pingin saja mencak-mencak kepada kedua orangtua anak tersebut, untung saja aku dapat mengendalikan diriku. Aku juga sudah menyampaikan hal ini kepada wali kelasnya. Sebenarnya ia sudah memintaku untuk memindahkannya semenjak ia duduk dibangku kelas 3 SD. Dina tak ingin prestasinya yang selama ini didapatkannya dikelas, dianggap oleh beberapa pihak karena ada campur tanganku. Padahal aku tak tahu menahu tentang itu. Karena penilaian tentangnya sudah kuserahkan sepenuhnya kepada wali kelas. Aku hanya sekedar bertanya tentang nilai-nilainya dikelas, dan sejauh ini memang tak ada masalah. Wali kelasnya-pun mengakui kalau dina memang cerdas. Ya, memang ini satu dilema jika anak bersekolah ditempatnya mama mengajar.

Saat ini aku hanya  bisa memberikannya motivasi agar ia tidak patah semangat untuk belajar. Dina, putri manisku memang sangat tekun dalam belajar, ia tak perlu menunggu disuruh untuk membuka kembali pelajaran yang diberikan ibu gurunya dan membuat PR jika dirumah. Jika aku membuka pintu kamarnya aku melihat ia begitu serius dengan buku-buku pelajarannya. Terlihat ketika ia kalah saingan dengan temannya pada pelajaran matematika, dengan kesadarannya sendiri, ia memintaku untuk memasukannya ditempat les khusus untuk otak kanan. Ya, apapun kulakukan jika untuk mendukung prestasi anak-anakku.

Salah satu koleksi piala Dina di sekolah
Dina putriku juga jago bercerita, berpidato dan ceramah. Aku sangat bangga atas prestasi yang diukirnya. Karena sudah memboyong beberapa piala untuk menjadi koleksi sekolah. Beberapa minggu lalu ia juga mendapat juara 2 ketika mengikuti Dai cilik mewakili TPA-nya tingkat kecamatan. Saat ini ia juga bersiap-siap untuk mengikuti olimpiade IPA dalam rangka FLS2N.

Piala lomba Da'i cilik
Semangat Dina putri manisku, jangan dengarkan mereka yang beranggapan lain-lain tentangmu, biarkan anjing menggonggong, kafilah berlalu. Keep Smile aja. Mama yakin dina pasti bisa. Doa mama selalu menyertai setiap langkahmu nak……………



Selasa, 27 Januari 2015

Mengatasi radang telinga dengan tanaman rumput

Semalaman telingaku nyut-nyut, tak bisa tidur, sepertinya telingaku mengalami radang. Untung saja itu tak berlangsung lama karena ternyata ibuku punya resep warisan dari nenekku untuk mengatasi telinga yang sakit ini. 

Salah satu temanku sekolahku juga pernah mengalami yang namanya radang telinga, sudah beberapa kali mendatangi dokter tapi tak juga mengalami perubahan, sampai-sampai beberapa hari tidak masuk mengajar, makan tak enak, tidurpun tak lelap, sakitnya sangat mengganggu aktivitasnya. Akupun menyampaikan niat baikku bahwa akan mengantarnya untuk berobat secara alami kepada ibuku. Alhamdulilah hanya butuh satu hari saja pembengkakan yang terjadi didalam telinganya mengalami perubahan.

Sebenarnya sih, pengobatannya sangat sederhana sekali, hanya dari rumput liar yang ada dihalaman rumah, tanaman ini masuk pada golongan tanaman perdu, biasa disebut ciplukan. Di kampungku tanaman ini disebut “PEPOGU”, yang artinya letusan. Hehehe, mungkin karena telinga yang bengkak tersebut diberi obat lalu pecah, makanya oleh orang tua dulu diberi nama seperti itu.Yuuk, kita coba jelajahi halaman rumah kita,barangkali saja ada tanaman ini.

Langkah-langkah pengobatannya sebagai berikut :

1.  Ambil segenggam daun, kemudian tumbuk hingga menjadi halus dan berair.

2.  Taruh diatas kain yang berukuran
10cm x 10cm, kemudian bungkus hasil tumbukan daun tadi dengan rapi.

3.  Hangatkan diatas bara api atau diatas kompor.

4.  Setelah hangat, teteskan air hasil tumbukan dari tanaman pepogu kedalam telinga yang sakit.

Lakukan 3x sehari, selama tiga hari berturut-turut.

Semoga bermanfaat.




Minggu, 28 Desember 2014

Menjadi pendengar yang baik bagi putra-putriku

Menjadi seorang ibu adalah karunia yang terindah dalam hidupku, apalagi ketika aku melihat putra-putriku mulai tumbuh dewasa, mereka mulai aktif mengikuti kegiatan dilingkungan sekolah dan diluar rumah. Namun, kadang kekhawatiran muncul dalam hati. Apalagi dizaman yang serba canggih seperti sekarang ini, pengaruh narkoba serta merebaknya video porno yang dilakukan oleh para siswa-siswi atau aksi kekerasan yang terjadi dibeberapa sekolah, makin menambah kekhawatiranku jika mereka berada diluar rumah.

Aku sempat tercengang ketika putra pertamaku yang berusia 14 tahun dan saat ini duduk dibangku SMP mengatakan, bahwa ia pernah naik angkot sepulang sekolah bersama seorang kawannya, beberapa orang siswa dari sekolah lain ada didalam angkot tersebut. Ia juga sempat kaget ketika ia melihat siswa didalam angkot tersebut sedang menghisap rokok, dan beberapa dari mereka sedang menikmati dan menghirup aroma lem fox. Ya, Allah bgaimana dengan nasib generasi penerus bangsa ini, jika masih SMP saja sudah melakukan hal-hal yang negative seperti itu. Kasihan dengan orangtua mereka. Mungkin saja mereka tidak tahu anaknya berbuat seperti itu.

Dengan menghirup aroma lem fox mereka bisa merasakan seperti terbang diawang-awang atau istilah kerennya fly, karena didalamnya terdapat zat adiktif yang yang dapat menyebabkan halusinansi. Kalau dibiarkan terus menerus akan menyebabkan gangguan pada syaraf dan organ tubuh. Mungkin mereka sudah tahu tentang bahaya tersebut. Ya, namanya juga ababil atau ABG labil,  pengaruh lingkungan dan kurangnya pendidikan agama bisa dengan mudah merusak moral mereka.

Awalnya sih coba-coba, eh lama-lama jadi ketagihan, itulah dampak buruk dari zat adiktif, rokok atau narkoba dan sejenisnya. Sudah saatnya sekarang kita sebagai orang tua untuk selalu mengontrol kegiatan-kegiatan anak kita saat berada diluar rumah, dan mencari tahu siapa saja teman-teman mereka baik dilingkungan sekolah maupun dilingkungan rumah serta menjalin komunikasi yang baik dengan guru disekolah mereka.


Alhamdulilah sebagai orang tua aku selalu menanamkan nilai-nilai agama pada mereka, Saat ini putraku aktif sebagai pengurus osis disekolahnya dan sebagai pengurus kesantrian di taman pengajian Nurul Haq yang ada dilingkungan rumah kami. Adiknya juga aktif mengikuti kegiatan mengaji setiap sore di taman pengajian tersebut. Berawal dari taman pengajian tersebut mereka sudah pernah mewakili kabupaten untuk mengikuti Festival Anak Sholeh Indonesia tingkat provinsi untuk kategori ceramah. Meskipun tidak sempat sampai ketingkat nasional. Namun cukuplah bagiku untuk bisa memberikan kontribusi yang sangat besar bagi perkembangan kreativitas mereka.


Menjalin komunikasi yang baik antara aku dan anak-anakku itulah yang selalu kulakukan, untungnya mereka selalu terbuka dalam segala hal. Mereka akan bercerita panjang lebar tentang apa saja yang terjadi selama mereka berada disekolah atau dilingkungan luar rumah. Kalau sudah begini, akupun harus menjadi pendengar yang baik. Sesekali aku menimpali cerita mereka dengan memberikan nasehat.

Kegiatan Santri TPA Nurul Haq

Mendidik anak memanglah bukan hal yang mudah, ibarat mengukir diatas batu. Aku hanya berharap diusia mereka yang mulai menginjak dewasa,  mereka tidak salah melangkah. Dari beberapa hal diatas yang selalu kami garis bawahi dan selalu kami lakukan sebagai orangtua untuk anak-anak kami adalah  :

1.   Menanamkan nilai-nilai agama.
2.   Mendukung semua kegiatan yang bersifat positif.
3.   Menjalin komunikasi yang baik dengan putra-putri kami.
4.   Menjadi pendengar yang baik.
5.   Mengenal semua teman-temannya, baik dilingkungan rumah dan sekolah.
6.   Menjalin komunikasi yang baik dengan guru disekolah dan guru mengaji.

Semoga anak-anakku menjadi anak yang sholeh, menjadi kebanggaan keluarga serta kelak akan menjadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama.



Ngaji yuk...!